Pengorbanan seorang ibu…

Pengorbanan seorang ibu…

Pagi itu hari terasa cerah, matahari seakan menyapa ke semua org dengan senyuman indahnya.

Dengan shogun biru butut saya, saya melintasi jalan dari pondok cabe ke RSUP fatmawati sambil menikmati indahnya udara pagi. Kalo berangkat sebelum jam 6 pagi, kita bisa menikmati perjalanan dan pemandangan kota Jakarta selatan, namun kalo sesudah itu sesudah itu jangan berharap karena kemacetan Jakarta sudah mulai menggila.

Sesampai di fatmawati, segera saya parkir sepeda motor saya..”mruput dok berangkatnya?”Tanya seorang tukang parkir.”iya bos…hari ini gua nggak tidur nyambung hahaha..”.

Saya lihat RS fatmawati tampak indah dan bersih dipandang mata, ” wah kalo begini saya betah tugas disini hehehe…”

Hari ini kebetulan saya masuk dalam tim operasi tulang belakang, pasiennya bernama saefullah,biasa saya panggil ipul, dia anak 6 th,badannya sangat kurus, dengan keluhan tulang belakangnya bongkok sampai 90 derajat, penyebab kebongkokannya adalah Tuberculosis / TBC yg sudah bertahun tahun. TBC adalah penyakit yang sangat jahat, penyebabnya adalah kuman Tuberculosis human type, yang awalnya menyerang paru-paru, gejalanya adalah batuk kronis yang tidak sembuh-sembuh, batuk keluar darah, ada riwayat kontak dengan penderita TBC yang lain, keringat dingin kalo malam hari, penurunan berat badan.Jika dijumpai keluhan semacam ini seharusnya penderita segera mencari pengobatan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut

Obatnya sudah ditemukan dan di gratiskan oleh pemerintah, Cuma masalahnya butuh kepatuhan dari penderita karena pengobatan TBC butuh waktu yang lama (minimal 6 bulan) dan harus memakan beberapa jenis obat setiap hari sekaligus(4 jenis), sehingga banyak di jumpai kasus putus obat / berhenti minum obat karena merasa sudah enak atau sudah sehat, tanpa pemeriksaan dari dokter.

Jika sampai terapinya tidak adekuat / tidak sesuai aturan dan kumannya menjadi resisten / kebal dari obat, maka penyakitnya akan menyebar dari paru ke seluruh tubuh, pada kasus saefulloh ini TBC menyebar ke tulang belakang, dan menyebabkan hancurnya beberapa segmen tulang belakang akhirnya bongkok dan mendesak saraf tulang belakang pada akhirnya jika tidak segera mendapatkan terapi yang benar akan menyebabkan kelumpuhan kedua kakinya, namun untungnya si ipul ini belum lumpuh, hanya kedua kakinya sudah mulai lemah dan tidak bisa berjalan hanya rambatan.

Pertama kali bertemu ipul kurang lebih 2 bulan yang lalu, waktu itu ipul diantar oleh ibunya periksa ke bagian tulang belakang orthopaedi RS Fatmawati, dia di rujuk dari RSUD daerah pinggiran Jakarta karena terbatasnya alat. Ibunya datang tampak lusuh dan wajah yang menyimpan kelelahan luar biasa.

“dok,..anak saya ini, sudah 1 tahun terakhir punggungnya bongkok, beratnya semakin kurus, tingginya tidak bertambah, dia batuk tidak sembuh-sembuh dan kalo malem sering keringat malam…”

Saya perhatikan ipul,..melas juga. Badannya kurus kering punggungnya bongkok lagi..setelah melakukan pemeriksaan saya menduga ipul terkena TBC yang tidak terobati dengan baik dan sekarang mungkin sudah menyebar kemana – mana salah satunya ke tulang belakang.

Tindakan saya berikutnya adalah menegakkan penyakit TBCnya dan mencari tahu sudah dimana saja penyebarannya serta mengetahui seberapa parah kerusakan di tulang belakang. Maka saya jelaskan penyakit ipul dan rencana yang akan saya ambil, tampak ibu tersebut setuju. Akhirnya saya buatkan pengantar untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dan radiologi.

Beberapa hari kemudian ibunya ipul menemui saya di poliklinik. “dok..pemeriksaan yang dokter minta kemarin, ternyata mahal-mahal dok , saya tidak punya uang..la wong saya di RS ini saja tidur di emperan RS dan makan seadanya..suami saya di rumah kerjanya Cuma serabutan.”
“lah kalo begitu ibu ngurus saja jankesmas (jaringan kesehatan untuk keluarga miskin).ibu ke RT,RW dan puskesmas tempat ibu tinggal, minta keterangan tidak mampu. Kalo surat jankesmasnya lengkap nanti pemeriksaan dan semuanya digratiskan Negara”. Terang saya “ooo…begitu dok?”

Beberapa hari kemudian saya sering melihat ibunya ipul mondar-mandir di RS dari satu loket ke loket lain untuk melengkapi formulir jankesmasnya…”wah perjuangan yang hebat seorang ibu…benar-benar mandiri…diselesaikannya semuanya seorang diri tanpa suami di sampingnya, salut…”

Kemudian saya akhirnya bertemu kembali ipul dan ibunya di poliklinik orthopaedi, sudah membawa berkas- berkas pemeriksaan lengkap.”ini dok..yang dokter minta kemarin..saya pontang – panting dok, bolak balik Jakarta – tangerang, agar bisa ipul sehat lagi…soalnya kakinya sudah mulai lemah, dia sudah tidak kuat berjalan, Cuma rambatan..”

..waduuuh “ces” rasanya hati saya kalo mendengarkan cerita ibunya ipul ini, meskipun terlihat lelah tapi dia tampak bersemangat dan berusaha ceria…demi sang anak tercinta..

“oya bu..saya lihat dulu ya hasil-hasil pemeriksaannya…”

dari hasil pemeriksaan yang ada ternyata ipul benar menderita TBC dan TBCnya sudah menimbulkan kerusakan beberapa segmen tulang belakang dari Vertebra thorakal 8 sampai vertebra lumbal 1, dan menimbulkan kiphosis atau kebengkokan 90 derajat….”wah parah sekali…”

saya perhatikan hasil CT scan, saya ukur diameter pedikel (pedikel adalah bagian terkuat dari tulang belakang, sebagai tempat dipasang implant atau sejenis pen jika nantinya harus di operasi) “wah pedikelnya kecil sekali, diameternya kurang dari 4,5 mm…ada nggak ya alatnya?” Tanya saya dalam hati….

“bu.. kasus ipul ini tergolong kasus sulit…jadi kasus ini mau saya bawa ke senior saya saat ada assessment (diskusi kasus) tulang belakang..nanti kalo sudah ada keputusannya ibu saya kabari…saya minta nomer hp yang bisa saya hubungi.?

“walah dok… boro-boro nomer hp..telpon rumah saja saya tidak punya…?

“waduh..kalo gitu nomer telpon tetangganya saja..?

“wah saya nggak hafal dok,nomernya dokter aja saya minta nanti saya beritahu nomernya tetangga saya”. “OK”akhirnya kukasihkan saja nomer HP saya.

Saat assessmen spine, dihadiri professor di bidang spine dan senior – senior saya di bidang spine / tulang belakang..kasus ipul pun saya ajukan

Memang kasus yang sulit…beberapa pendapat di ajukan untuk tatacara terapinya, akhirnya di putuskan dilakukan operasi 2 tahap : pertama dari belakang/punggung untuk membuang nanah dari TBC di tulang belakangnya dan dipasang implant kemudian jika kondisi memungkinkan dilakukan operasi tahap kedua dengan membuka dari depan atau dada dan memindahkan tulang kecil dari betis di pindah untuk menyangga bagian depan tulang belakang.

“wah prosedur yang rumit, resiko terjadinya lumpuh dan kematian sangat besar, belum lagi implannya yang terlalu besar di bandingkan pedikel yang mau di pasang, bisa-bisa malah mencederai syaraf,masalahnya implant dengan diameter lebih kecil dari 4 mm belum ada..masya Alloh membayangkan prosedur operasinya saja bikin saya pusing apalagi melakukannya,…bismillah semoga Alloh meridloi…” .

“Tom…” “ya prof””kau jelaskan ke keluarganya ya hasil ini…jangan sampai keluarganya nggak jelas..sampai segala resikonya”. ” siap prof…”sahut saya

Akhirnya saya jelaskan semua hal rencana operasi yang dilakukan sampai resiko terberatnya yakni kelumpuhan dan meninggal. tampak ibunya terdiam menimbang-nimbang, akhirnya ibunya tampak dengan tegar menyetujuinya.

Dan hari yang ditentukan pun akhirnya tiba, yakni hari ini maka sebelum masuk kedalam ruang operasi saya sempatkan untuk ke bangsalnya ipul. “gimana ipul bu?sudah siap operasi?” ” Ya dok,semoga semuanya baik-baik ya dok, saya berdoa siang malam demi anak saya dok”.setelah memaastikan persiapan operasi dan semuanya baik maka sayapun menuju ke ruang operasi.

Operasi pun akhirnya dilakukan,tim spine yang berjumlah 4 orang sudah bersiap melakukan operasi,dan operasipun berjalan kurang lebih 5 jam, sebuah prosedur yang rumit dan melelahkan, dalam 5 jam kita harus berdiri dan berkonsentrasi dalam satu titik,….jika hilang konsentrasi maka bisa2 apa yang kita lakukan mencederai saraf tulang belakang. Bayangkan pengemudi Formula one saja dituntut konsentrasi tidak lebih dari 2 jam, perjuangan yang melelahkan. Setelah selasai belum berarti pekerjaan selesai, masih ada prosedur yang tak kalah penting, yakni melakukan “wake up test”. “Wake up test” adalah mengecek gerakan kaki setelah pasien mulai di sadarkan , jika ternyata tidak ada gerakan sama sekali maka berarti terjadi kelumpuhan, maka saat itu juga dilakukan operasi ulang untuk melepaskan semua implant yang sudah di pasang,jadi siap siap berdiri dan berkonsentrasi 4 jam lagi…jika terjadi maka tim spine siap2 lembur lagi…..

Setelah pasien di bangunkan ,hati saya mulai berdebar debar da berdoa semoga operasi tadi sukses dan ipul bisa menggerakkan kedua kakinya. Namun ternyata…ipul tidak hanya bisa mengerakkan kaki malah dia bisa membalikkan badan berubah menjadi posisi merangkak. “MasyaAlloh…Subhanalloh…Alhamdulillah ya Alloh ternyata yang ditakutkan tidak terjadi”, hamper seluruh isi ruang operasi yang tadinya berdebar cemas berteriak kegirangan, kejadian yang langka, pasien setelah operasi tulang belakang bisa membalikkan badan dan merangkak tiba-tiba…akhirnya operasi berjalan sesuai rencana.

Esok hari saya datangi ICU tempat ipul di rawat, saya perhatikan kondisinya sangat stabil dan siap dipindahkan ke ruang perawatan biasa..saya perhatikan ibunya berulangkali mengucapkan terima kasih ….ibunya tampak tegar meskipun lusuh dan berpakaian seadanya…semuanya dilakukan demi sang anak tercinta…duh trenyuh saya mendengarnya..

Sesampai di rumah saya mengingat peristiwa tadi. pengorbanan ibu untuk sang buah hatinya memang begitulah besar, apapun dilakukan demi sang buah hati, tak hirau apakah sang buah hati akan berbakti ataukah tidak suatu saat kelak.

Allohpun mengabadikan perjuangan seorang ibu dalam suatu ayat yang indah :”Kami perintahkan kepada manusia, supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah,dan melahirkannya dengan susah payah pula, Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan….” (Q.S.Al.AHQOF : 15)

Cinta seorang ibu memang tidak mengenal masa..hanya orang durhaka yang berani mengingkarinya. Islam menempatkan seorang ibu pada sisi yang sangat mulia. bahkan di ibaratkan surgapun di bawah telapak kaki seorang ibu. Ibu adalah madrosatillil aulad..tempat anak-anaknya,pertama kali berlabuh dan dan membina akhlaq serta menempa diri,

Di saat seperti ini saya berharap semoga saya di pertemukan kembali dengan ipul saat dia besar nanti, akan saya ajak dia menikmati minuman kopi sambil saya ceritakan bagaimana pengorbanan ibunya yang tanpa lelah dan pontang – panting , agar dia bisa berjalan lagi, dan menggapai masa depannya lagi,sebuah perjuangan yang kadang-kadang hanya Allohlah yang tahu. Maka Allohlah yang pertama kali murka jika hambanya durhaka kepada bundanya.

Ya Alloh…. jadikanlah hambaMu ini, termasuk anak yang selalu berbakti kepada orang tua hambamu, menjadisinar kebanggaan di mata orang tua . Robighfirlii wa li waalidayya warkhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo”.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s